Diposkan pada PRINSIP

Ilmu dan Adab

Siapa pun selalu menginginkan menjadi orang yang berilmu, karena orang yang berilmu akan mampu menyelesaikan masalah-masalah pelik yang dihadapi. Demikian pula, siapa pun juga menginginkan menjadi orang yang beradab, karena orang yang beradab akan disenangi oleh siapa saja.

Dalam tradisi intelektual Islam sendiri, ilmu dan adab sama-sama memiliki peranan yang sangat penting. Hal ini pun membuat para ulama dari masa ke masa menaruh perhatian yang sangat besar terhadap keduanya, terbukti dengan banyaknya kajian-kajian serta lahirnya karya-karya tentang konsep keduanya oleh para ulama.

Dr. Ahmad Alim, Lc., M.A. pada salah satu tulisannya dalam buku “Filsafat Ilmu” mengatakan bahwa pentingnya ilmu dan adab dalam tradisi intelektual Islam, telah mendorong perhatian para ulama untuk melahirkan sebuah karya abadi tentang konsep ilmu dan adab, dengan kajian yang mendalam dan komprehensif.

Misalnya, Imam al-Bukhari menulis tentang Adab al-Mufrad, al-Mawardi menulis tentang Adab al-Dunya wa al-Din, al-Khatib al-Baghdadi menulis tentang al-Faqih wa al-Mutafaqqih, al-Ghazali menulis Kitab Al-Ilm, Fatihah al-Ulum dalam Ihya Ulum al-Din, al-Zarnuji telah menulis Ta’lim al-Muta’allim, Ibn Jama’ah menulis Tadzkirah al-Sami’ wa al-Mutakallim fii Adab al-A’lim wa al-Muta’allim, al-Almawi menulis al-Mu’id fii Adab al-Mufid wa al-Mustafid, al-Syaukani menulis Adab al-Thalab, dan lain-lain.

Pada dasarnya, ketika berbicara mengenai ilmu dan adab, maka kita berbicara tentang dua hal yang seyogianya tidak dapat dipisahkan, mesti saling melengkapi, serta mesti selalu beriringan.

Hasan Asari dalam bukunya “Etika Akademis dalam Islam” mengatakan bahwa dalam Islam, ilmu dan adab adalah dua hal yang saling terintegrasi, yang saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya. Keduanya ibarat sebuah koin yang tak terpisahkan dan kebermaknaan yang satu tergantung pada yang lainnya.

Dengan esensi yang hampir mirip, Hisyam bin Abd Malik dalam kitabnya “Al-A’laqah Baina al-Ilm wa al-Suluk” mengatakan bahwa ilmu tanpa adab ibarat pohon tanpa buah, adab tanpa ilmu ibarat orang yang berjalan tanpa petunjuk arah.

Dengan demikian, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa ilmu dan adab tidak dapat dipisahkan, karena keduanya ibarat sebuah koin yang tak terpisahkan. Keduanya pun mesti saling melengkapi, karena kebermaknaan yang satu tergantung pada yang lainnya. Keduanya juga mesti selalu beriringan, karena ilmu tanpa adab ibarat pohon tanpa buah, dan adab tanpa ilmu ibarat orang yang berjalan tanpa petunjuk arah.

Sampai disini, tidak salah jika kita dapat menganggap orang yang berilmu pasti memiliki adab, begitu pun sebaliknya, orang yang beradab pasti memiliki ilmu.

Namun pada kenyataannya, di luar sana masih banyak yang beranggapan bahwa ilmu dan adab memiliki dimensi masing-masing. Hal ini juga tidak terlepas dari fakta adanya beberapa orang yang “terlihat” berilmu namun tidak beradab atau pun beradab namun tidak berilmu.

Dari sini lah muncul sebuah paradigma bahwa ilmu bisa ada pada diri seseorang meskipun tidak beriringan dengan adanya adab. Sebaliknya, adab bisa ada pada diri seseorang meskipun tidak beriringan dengan adanya ilmu.

Berangkat dari paradigma ini, maka tidak heran jika ilmu dan adab mulai menjauh (atau lebih tepatnya dijauhkan). Dan ini lah masalah yang mendasar yang sedang dihadapi umat manusia sekarang ini.

Masih pada tulisan yang sama dalam buku yang sama, Dr. Ahmad Alim, Lc., M.A. mengatakan bahwa masalah yang mendasar yang sedang dihadapi umat sekarang ini adalah masalah ilmu dan adab. Ilmu sudah mulai dijauhkan, bahkan dihilangkan dari nilai-nilai adab dalam arti luas.

Efek buruk dari fenomena ini adalah terjadinya kebingungan dan kekeliruan persepsi mengenai ilmu pengetahuan, yang selanjutnya menciptakan ketiadaan adab dari masyarakat.

Jika dilihat dari sisi ilmu, kita akan dapati kata sepakat dari semua penduduk alam semesta ini bahwa ilmu merupakan hal yang sangat penting. Karena itu, ilmu selalu dijadikan prioritas utama. Kenyataan pun berkata demikian, terbukti dengan semakin banyak munculnya pusat pendidikan di tengah masyarakat serta terlihatnya animo yang luar biasa dari para orang tua untuk menyekolahkan anaknya sedari kecil.

Sementara jika dilihat dari sisi adab, mungkin kita juga akan dapati hal yang serupa. Namun kenyataan yang berkata lain, banyak yang seakan tidak peduli dengan hal yang satu ini.

Imbas dari semua ini adalah munculnya paradigma yang secara tidak langsung menganggap bahwa adab bukan lah merupakan sesuatu hal yang penting, prioritasnya adalah ilmu dan bukan adab. Ini lah suatu hal yang mesti dikritisi bersama.

Paradigma ini akan berdampak pada rendahnya nilai dan kualitas orang yang berilmu di tengah masyarakat, karena orang yang berilmu belum tentu beradab. Lebih dari itu, paradigma ini juga akan berdampak pada rendahnya nilai dan kualitas ilmu itu sendiri. Nilai dan kualitas sebuah ilmu tidak lagi menjadi “wow” karena dipisahkan dengan unsur adab.

Dr. Ahmad Amin, Lc., M.A menganggap bahwa salah satu penyebab utama hilangnya keberkahan dalam dunia pendidikan adalah kurangnya perhatian civitas academicanya dalam masalah adab.

Oleh karena itu, adab harus menjadi perhatian utama bagi pencari ilmu, agar ilmu yang didapat kelak bermanfaat dan mendapat keberkahan.

Bahkan, Ibnu Jama’ah dalam kitabnya “Tadzkirah al-Sami’ wa al-Mutakallim fii Adab al-A’lim wa al-Muta’allim” mengatakan bahwa mengamalkan satu bab adab itu lebih baik daripada tujuh puluh bab ilmu yang hanya sekedar dijadikan sebagai pengetahuan.

Kesimpulannya, ilmu yang sedikit namun diiringi dengan unsur adab itu lebih baik daripada ilmu yang banyak, tetapi kosong dari unsur adab.

Dengan demikian, menjadi sebuah pekerjaan rumah bagi siapa saja yang sadar akan pentingnya ilmu sekaligus adab untuk membuat mengerti setiap orang yang belum sadar.

Mari kita ubah paradigma semua orang agar beranggpan bahwa ilmu dan adab itu sama-sama penting. Keduanya tidak dapat dipisahkan, saling melengkapi, serta selalu beriringan.

Semoga Allah selalu memberikan hidayah kepada kita semua dan selalu membimbing kita menuju jalan kebenaran. Aamiin.

Iklan
Diposkan pada PRINSIP

Pemuda : Potret Masa Depan

Bung Karno pernah berkata, “beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Ini lah salah satu bentuk apresiasi Bung Karno kepada para pemuda. Para pemuda memiliki peran besar untuk masa depan bangsa dan agama.

Kesadaran akan potensi yang dimiliki, harus membuat para pemuda mempersiapkan dirinya untuk menyongsong masa depan. Akan jadi seperti apa bangsa dan agama pada masa yang akan datang, bergantung pada bagaimana para pemuda saat ini.

Hal ini lah yang coba dimanfaatkan oleh para pengasong liberalisme untuk membentuk sebuah bangsa dan agama yang mereka inginkan. Sasarannya jelas, yaitu para pemuda “labil” yang tengah mencari jati dirinya. Para pemuda labil bagaikan kupu-kupu yang baru keluar dari kepompong, baru mengenal dunia dengan statusnya yang baru.

Para pengasong liberalisme pun sangat pandai merayu para pemuda labil yang baru saja memulai untuk berpikir lebih mendalam. Dengan menyematkan istilah-istilah keren nan beken, yang tentunya akan menarik perhatian dari para pemuda labil yang masih awam.

Disini lah para pemuda benar-benar harus menyadari siapa dirinya, apa potensi yang dimilikinya, serta apa perannya bagi bangsa dan agama. Jangan sampai para pemuda terombang-ambing oleh arus air yang justru mengarahkan mereka menuju air terjun (bahaya).

Jika dilihat sekilas, cara yang dipakai oleh para pengasong liberalisme seperti sebuah fase. Hal ini dapat terlihat dari cara para pengasong liberalisme menanamkan paham-paham “konyol” mereka kepada para pemuda.

Mula-mula, para pemuda ditanamkan paham bahwa agama dan dunia mesti dipisahkan, agama dan dunia adalah dua hal yang mesti berjalan sendiri-sendiri, serta tidak perlu mencampuradukkan keduanya. Paham ini sering dikenal dengan istilah sekularisme.

Para sekularis tidak ingin urusan dunia mereka dicampuri oleh dogma agama. Mereka menganggap bahwa dogma agama bukan lah sesuatu yang bersifat aplikatif untuk urusan dunia.

Sejatinya, paham sekularisme itu antiagama. Namun, para sekularis hanya berdalih memisahkan agama dari dunia mereka.

Menurut KBBI sendiri, istilah sekularisme berarti paham atau kepercayaan yang berpendirian bahwa paham agama tidak dimasukkan dalam urusan politik, negara, atau institusi publik.

Akibat dari paham ini, akan banyak ditemukan teriakan-teriakan lantang yang menyerukan bahwa politik pemerintahan tidak perlu dicampurkan dengan dogma agama, politik pemerintahan memiliki jalannya sendiri dan dogma agama juga memiliki jalannya sendiri.

Selanjutnya, jika paham sekularisme ini telah tertanam sempurna, para pengasong liberalisme akan melanjutkan “pencucian otak” para pemuda dengan paham pluralisme agama, sebuah paham dimana semua agama itu adalah benar.

Menurut KBBI, istilah pluralisme sendiri berarti keadaan masyarakat yang majemuk (bersangkutan dengan sistem sosial dan politiknya).

Jika ditinjau dari pengertian sosiopolitis, istilah pluralisme bisa diganti dengan istilah toleransi. Namun, istilah pluralisme mengalami penyempitan makna dengan pengertiannya yang mengakui bahwa semua agama itu adalah benar. Berdasarkan hal ini, maka istilah pluralisme menjadi sangat jauh dari istilah toleransi. Karena itu, istilah pluralisme berubah menjadi sebuah paham, dimana semua agama adalah benar.

Para pluralis menganggap semua agama itu adalah benar, agama apa pun yang dianut oleh seseorang, memiliki tujuan yang sama dengan agama-agama lain, meskipun dengan cara peribadatan yang berbeda-beda.

Dari sini, akan muncul dan berkembang teori relativitas, dimana kebenaran sesuatu itu bersifat relatif. Tiba lah saatnya dimana akan sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Salah disini bisa jadi benar disana. Ini lah akibat dari paham pluralisme yang membenarkan semua agama.

Bukan hanya itu, dampak dari teori relativitas ini akan menyebabkan timbulnya paham bahwa setiap orang (muslim) berhak menginterpretasi wahyu (Alquran) sesuai dengan kebutuhannya masing-masing, karena kebenaran bisa ada pada siapa saja tergantung pemahamannya akan kebenaran itu sendiri. Apapun hasil interpretasi wahyu tersebut pasti benar, karena kebenaran itu relatif. Ini lah yang saat ini sedang coba dikembangkan oleh para pengasong liberalisme.

Tidak berhenti sampai disitu, dengan adanya teori relativitas serta adanya hak bagi setiap orang untuk menginterpretasikan wahyu sesuai kebutuhan masing-masing akan berujung pada pencelaan terhadap para ulama. Setiap orang yang membenarkan paham ini akan mengatakan bahwa para ulama memaksakan interpretasinya atas wahyu, yang belum tentu cocok dan sesuai untuk semua orang. Mereka menganggap bahwa agama itu memudahkan, lantas mengapa mesti dipersulit dengan memaksakan interpretasi para ulama atas wahyu untuk mereka. Lama-kelamaan, paham ini akan membuat mereka menyalahkan para ulama, karena para ulama dianggap tidak benar dalam menginterpretasikan wahyu. Mereka menganggap hasil interpretasi para ulama atas wahyu tidak cocok dan tidak sesuai untuk mereka, sehingga ada kemungkinan bahwa interpretasi para ulama itu salah. Mereka menganggap bahwa para ulama juga manusia biasa, ada kemungkinan untuk berbuat salah. Mereka tidak sadar, padahal mereka juga manusia, yang juga bisa salah, ibarat maling teriak maling.

Dan setelah semua paham ini benar-benar melekat pada para pemuda, maka terbentuk lah paham liberalisme. Sebuah paham dimana kebebasan itu nomor satu dan berada di atas segala hal. Sebuah paham dimana setiap orang bebas melakukan apa pun yang dianggapnya benar (lebih tepatnya diinginkannya), karena kebenaran itu relatif.

Menurut KBBI, istilah liberalisme berarti aliran ketatanegaraan dan ekonomi yang menghendaki demokrasi dan kebebasan pribadi untuk berusaha dan berniaga (pemerintah tidak boleh ikut campur) atau usaha perjuangan menuju kebebasan.

Namun kebebasan “yang terbatas” menurut KBBI untuk istilah liberalisme disalahartikan hingga menjadi tidak dibatasi lagi. Artinya, setiap orang bebas melakukan apa pun, tidak boleh dikekang oleh aturan apa pun, baik negara atau pun agama. Hukum negara dan hukum agama hanya mengekang seseorang untuk tidak melakukan apa pun yang mereka ingin lakukan, serta melanggar hak asasi manusia.

Memang setiap orang berhak melakukan apa pun, tetapi tetap harus dalam koridor hukum yang berlaku. Mungkin saja para liberalis ini lupa dengan pelajaran SD akan pentingnya sebuah aturan dalam bermasyarakat. Tanpa adanya sebuah aturan, setiap orang akan sewenang-wenang, merasa punya hak untuk melakukan apa pun, sekali pun sebuah kejahatan. Ini lah peran penting sebuah aturan dalam bermasyarakat, menjaga kedamaian dan ketenangan mereka sendiri. Apakah ini tidak cukup untuk memberantas paham liberalisme yang menginginkan kebebasan “tak beralasan” itu??

Pada sisi lain, atas dasar apa manusia diciptakan? Dalam pandangan Islam, hanya untuk beribadah. Pada dasarnya, setiap muslim itu mesti “pasrah” terhadap aturan Islam, karena Islam itu berarti tunduk dan patuh. Maka dari itu, tidak cocok lah paham liberalisme jika disematkan berbarengan dengan Islam, yang satu bebas dan yang satu lagi tunduk dan patuh.

Bukan berarti Islam mengekang kebebasan seseorang, namun Islam membatasi para pemeluknya dari hal-hal yang merugikan semua pihak. Contohnya saja, aturan Islam yang mengharuskan seorang wanita untuk berhijab bukan lah suatu bentuk diskriminasi dan pengekangan, melainkan bertujuan menjaga kesucian wanita itu sendiri, Islam sangat memuliakan seorang wanita melalui aturan berhijab, bukan malah mengekang.

Seandainya setiap orang sudah memahami tujuan penciptaan mereka, maka tidak perlu lagi alasan ini dan itu untuk membenarkan kebebasan, karena setiap orang sudah sadar akan hakikat dirinya yang hanya sebatas “budak”.

Ini lah fase-fase penanaman paham liberalisme kepada para pemuda labil, meskipun tidak mesti persis seperti ini, yang pasti seluruh paham ini akan ada pada setiap orang yang telah “tercuci”.

Ini juga merupakan bentuk kelihaian para pengasong liberalisme dalam mengatur dan mempermainkan cara berpikir seseorang. Sasaran utama yang dituju pun sangat rentan dipengaruhi, para pemuda labil. Saat para pemuda labil masih memilah dan memilih mana yang benar dan mana yang salah, permainan ini diberikan kepada mereka.

Bukan tidak mungkin hal ini juga akan ditujukan kepada para orang-orang dewasa yang sudak tidak labil lagi, namun akan lebih sulit, karena mereka telah memiliki pegangan hidup yang kuat dan sadar akan dirinya. Maka tidak jarang ketika yang berbuat ulah cenderung adalah para pemuda.

Disini lah para pemuda harus memiliki pondasi yang kuat menghadapi permainan ini. Kenapa pondasi? Karena orang yang memiliki pondasi yang kuat tidak akan mudah goyah oleh apa pun, lain hal nya dengan orang yang memiliki pondasi yang lemah atau bahkan tidak memiliki pondasi sama sekali.

Pondasi ini ada pada ilmu, terkhusus lagi ilmu agama. Orang yang berilmu tidak akan goyah oleh apa pun yang akan merusak keyakinannya, justru hal tersebut akan dilawan, lain halnya dengan orang awam. Karena itu, perlu pendekatan yang sangat signifikan terhadap para pemilik ilmu agama ini (belajar dengan guru agama) untuk menguatkan pondasi serta agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Sekali lagi, kesadaran. Ya, kesedaran seorang pemuda dan siapa saja akan siapa dirinya, apa potensi yang dimilikinya, serta apa perannya bagi bangsa dan agama.

Mari memelihara diri kita sendiri dari hal-hal yang menyesatkan, mesti pandai memilih tempat “nongkrong”, serta menjaga pergaulan tentunya. Jangan asal mengunyah sesuatu hanya karena terlihat enak, sebab bisa jadi akan menyesal nantinya jika rasanya justru tidak sesuai dengan apa yang terlihat.

Semoga Allah selalu memberikan hidayah kepada kita semua dan selalu membimbing kita menuju jalan kebenaran. Aamiin.

Diposkan pada PRINSIP

​Apa atau Bagaimana??

Rumit. Ini lah kira-kira kata yang paling tepat saat ini untuk menggambarkan kondisi manusia dengan segudang tumpukan masalah yang harus dihadapi. Entah kenapa, setiap harinya manusia tidak pernah hampa dari yang namanya masalah. Bahkan, ketika satu masalah telah terselesaikan, akan muncul masalah baru. Tidak hanya itu, masalah lama yang telah terselesaikan pun dapat muncul kembali.

Tidak bisa dibayangkan bagaimana jika manusia hidup adem ayem tanpa ada satu masalah pun yang harus dihadapi. Entah karena faktor resiko akan pilihan hidup atau memang fitrahnya manusia untuk menjalani hidup dengan menyelesaikan masalah demi masalah. Kita anggap saja demikian.

Lantas, jika memang masalah itu adalah sebuah kepastian yang akan muncul, apa yang mesti dilakukan?? Ya, mencari solusi dari masalah tersebut.

Mengambil inti sari dari salah satu tulisan Bapak Prof. Dr. Imam Suprayoga, M.Si, bahwa manusia (ketika mencari solusi) lebih cenderung terfokus dalam mengeksekusi masalah “apa” yang dihadapi dibandingkan mencari “bagaimana” masalah itu bisa muncul.

Kita bisa analogikan pada kisah semut dan gula, maka sebab munculnya semut adalah adanya gula, ada gula ada semut. Begitu juga pada kisah asap dan api, maka sebab munculnya asap adalah adanya api, ada api ada asap.

Jika kita gabungkan tulisan Bapak Prof. Dr. Imam Suprayoga, M.Si dengan analogi yang kita buat di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kebanyakan manusia lebih memilih menyingkirkan semut dan asap dibandingkan melenyapkan keberadaan gula dan api. Manusia lebih fokus mengeksekusi masalah secara langsung, menyingkirkan semut dan asap, padahal penyebab daripada munculnya masalah itu masih ada, gula dan api. Maka ketika gula dan api masih ada, bukan tidak mungkin semut dan asap yang sudah disingkirkan akan muncul kembali dikemudian hari. Logika sederhana.

Begitu pun halnya dengan kasus korupsi di Indonesia. Adanya lembaga khusus yang dibentuk untuk memberantas korupsi pun tidak membuat para koruptor takut, justru tingkat korupsi di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Lantas kenapa?? Jika kita kembali pada kesimpulan di atas, mungkin saja kita akan temukan jawaban pertanyaan ini.

Lembaga pemberantas korupsi lebih cenderung terfokus dalam mengeksekusi para koruptor dibandingkan menelusuri penyebab munculnya kasus korupsi. Dan pada akhirnya, siklusnya hanya itu dan itu saja, koruptor tertangkap lalu dieksekusi, tangkap-eksekusi, dan seterusnya, dan selanjutnya. Maka mungkin saja kasus korupsi akan menjadi drama tanpa akhir.

Mari kita mencoba untuk mencari penyebab kenapa seseorang melakukan korupsi. Apakah karena kekurangan uang?? Sepertinya kurang tepat, pada kenyataannya, para koruptor justru banyak berasal dari kasta beruang (ber-uang maksudnya). Mungkin ada yang pernah dengar berita seseorang terpaksa korupsi karena harus memenuhi kebutuhan hidup?? Kalau ada, mungkin bisa dibagi informasinya kakak, hehe.

Ya, penyebab korupsi bukan karena faktor kekurangan uang, melainkan nafsu. Nafsu ini lah yang membuat seseorang dari yang semula mencari kebutuhan menjadi mencari keinginan. Para koruptor bisa dianggap sudah memiliki hidup yang berkecukupan dan bahkan sampai pada level mewah, namun nafsu untuk memiliki sesuatu yang lebih dari sekedar kecukupan ini lah yang menjadi penyebab korupsi. Bukan lagi sekedar butuh uang tetapi sudah sampai pada level ingin uang. Jika butuh uang, maka ketika sudah memiliki uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, maka cukup sampai disitu. Namun jika ingin uang, maka sebanyak apa pun uang yang sudah dimiliki, masih terasa belum cukup, ingin lagi dan lagi.

Entah benar atau tidak, tetapi jika hal ini benar, maka solusi yang paling tepat untuk memberantas korupsi tidak hanya mengeksekusi pelakunya (sebagaimana biasa), melainkan juga mengeksekusi penyebabnya, yaitu nafsu. Bagaimana caranya? Jangan tanyakan pada saya, kita serahkan saja pada pihak yang berwenang dalam kasus tersebut. Namun sedikit-banyaknya kita telah membantu memberikan solusi atas kasus korupsi yang seperti tidak punya akhir cerita ini.

Itu pun jika memang apa yang kita bahas ini benar adanya. Kita kan cuma menduga. Jika perlu, lembaga pemberantas korupsi tersebut membuat kajian dan penelitian khusus membahas dan mencari penyebab munculnya kasus korupsi lalu mencari solusi untuk memberantas penyebab munculnya kasus korupsi itu.

Mungkin saya terlihat paling mengerti disini. Namun faktanya, saya hanya mengutarakan apa yang saya lihat, kasus berulang tanpa akhir. Miris sekali.

Sekali pun jika hal ini telah terpikirkan oleh mereka, lantas kenapa tindakan pencegahan tidak segera dilakukan?? Yang sering saya baca atau pun lihat hanyalah eksekusi tersangka, itu dan itu lagi, makin lama malah makin sering.

Intinya adalah bagaimana masalah bisa muncul? Lalu eksekusi. Bukan sekedar apa masalahnya? Lalu eksekusi. Lebih baik mencegah masalah dengan mencari penyebab daripada mengobati masalah dengan langsung mengeksekusi masalah. Cari lah penyebab, lalu cari penangkalnya, Insya Allah masalah akan selesai. Ingat!! Ada gula, ada semut. Ada api, ada asap.

Semoga Allah selalu memberikan jalan keluar untuk setiap masalah yang kita hadapi dan selalu memberikan kita kemudahan dalam segala hal. Aamiin.

Diposkan pada PRINSIP

​Berpikir Sebelum Bertindak

Pada otak kita, terdapat bagian otak yang bertugas memberi peringatan jika kita berada dalam situasi bahaya dan langsung membuat kita merespon bahaya tersebut dengan melakukan sebuah tindakan. Cara kerjanya adalah dengan mode fight or flight. Ketika bahaya datang, bagian otak ini akan langsung memberi peringatan dan memerintahkan anggota tubuh kita untuk berkelahi atau lari. Bagian otak ini biasa dikenal dengan otak reptilia. Singkatnya, cara kerja bagian otak ini adalah dengan langsung mengambil tindakan ketika ada peringatan bahaya.

Maka tidak heran, jika ada seseorang yang mendapat telepon dari seorang penipu dan diberi tahu bahwa anaknya kecelakaan. Seketika, orang tersebut akan panik. Maka, ketika si penipu tersebut memintanya untuk mentransfer sejumlah uang, tanpa berpikir panjang orang tersebut akan melakukannya. Ketika kondisi telah tenang, baru lah orang tersebut sadar bahwasanya dia telah ditipu. Begitu lah sedikit gambaran bagaimana seorang penipu mampu mengendalikan kerja otak orang tersebut, yang dalam kasus ini si penipu telah mengaktifkan kerja otak reptilia ini.

Bagian otak reptilia ini juga ada pada hewan. Karena itu, kita akan mendapati hewan hanya akan melakukan satu dari dua hal, berkelahi atau lari, berkelahi memburu mangsa atau lari agar tidak dimangsa.

Namun, kita berbeda dengan hewan, karena kita tidak hanya memiliki bagian otak reptilia ini, namun kita juga memiliki bagian otak lain yang bertugas mengolah informasi sebelum memerintahkan anggota tubuh untuk bertindak. Bagian otak ini biasa dikenal dengan otak neo-cortex. Singkatnya, bagian otak ini lah yang memutuskan tindakan apa yang mesti dilakukan atau tidak bertindak sama sekali.

Keberadaan bagian otak inilah yang membedakan kita dan hewan. Ya, hewan hanya memiliki bagian otak reptilia, artinya hanya memilih antara bertarung atau lari, memangsa atau dimangsa. Sementara kita, selain memiliki bagian otak reptilia, juga memiliki bagian otak neo-cortex yang akan mengolah informasi yang kita terima sebalum melakukan sebuah tindakan.

Namun, tidak sampai disitu saja. Oknum-oknum tertentu yang mengerti betul akan fungsi-fungsi bagian otak ini mencoba memakaikannya dalam bentuk yang lain, belum lagi mereka yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan kerja otak kita, yang dalam hal ini melumpuhkan kerja otak neo-cortex dan mengaktifkan kerja otak reptilia.

Hal ini dapat kita temukan pada beberapa iklan produk yang lebih terkesan menakut-nakuti. Karena ketika seseorang ditakut-takuti akan sesuatu, biasanya kerja otak reptilia akan aktif dan kerja otak neo-cortex akan lumpuh.

Contohnya saja pada produk pemutih wajah untuk wanita. Iklan seperti apa yang biasa diperlihatkan berkaitan dengan produk pemutih wajah untuk wanita tersebut? Ya, iklan yang terkesan menakut-nakuti wanita akan wajah yang gelap, sehingga wanita berpikir, bagaimana ya jika wajah saya terlihat gelap? Secara tidak sadar, kerja otak reptilia telah aktif. Seolah-olah ada sesuatu yang menakutkan ketika seseorang memiliki wajah yang gelap. Dari sini timbul lah perasaan akan wajah yang semakin hari tampak semakin gelap, dan pada akhirnya merasa harus membeli produk pemutih wajah tersebut.

Hal seperti ini tidak hanya berlaku dalam periklanan, namun juga bisa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari.

Contohnya, ketika orang tua menakut-nakuti anaknya akan sesuatu untuk melarangnya melakukan sesuatu, atau orang-orang tua terdahulu yang membuat mitos akan adanya makhluk gaib tertentu dalam hutan yang pada awalnya hanya ingin melarang orang-orang untuk masuk ke dalam hutan. Kesan menakut-nakuti ini yang membuat kerja otak reptilia aktif. Bertindak tanpa mengolah informasi yang masuk.

Memang tidak semua orang akan selalu seperti itu, namun kebanyakan orang pasti pernah merasakan hal tersebut. Begitulah jika kerja otak reptilia diaktifkan sementara kerja otak neo-cortex dilumpuhkan.

Sistem pengendalian kerja otak ini juga bisa dilakukan pada hal-hal lain yang berbahaya, bahkan pada hal-hal yang menjurus kepada kejahatan. Hal ini juga dapat digunakan untuk memancing peperangan.

Menurut sebuah sumber, pascainsiden 911, pemimpin Amerika kala itu berencana untuk menyerang Afghanistan. Namun, dia tidak dapat mewujudkan rencananya itu, karena hampir 70% masyarakat tidak setuju. Maka, dibuat lah siasat untuk memengaruhi opini masyarakat. Melalui bantuan media, disebarlah isu-isu yang menakut-nakuti masyarakat akan bahaya terorisme. Afghanistan direkayasa menjadi sosok yang menakutkan dan dapat membahayakan negara sebesar Amerika. Hanya dalam tempo waktu yang singkat, opini masyarakat justru berbalik menyetujui invasi militer ke Afghanistan ini, bahkan hingga 70% masyarakat yang setuju. Dan hasilnya bisa kita lihat bersama, konflik perang Amerika-Afghanistan.

Ini lah fakta yang terjadi, mengendalikan kerja otak untuk merubah opini publik. Terbukti hal tersebut sangat efektif. Namun, hal ini justru menjadi sinyal bahaya. Bayangkan jika seluruh masyarakat di dunia dipengaruhi dengan cara ini, peperangan besar yang meliputi seluruh dunia akan terjadi. Dengan peperangan yang sudah terjadi di atas bumi ini saja kita telah dibuat merinding, apalagi jika peperangan yang lebih besar terjadi.

Hal ini juga dapat menimpa kita. Propaganda media yang menyebarkan isu-isu yang terkesan menakut-nakuti kita akan sesuatu, bisa saja mengaktifkan kerja otak reptilia kita dan melumpuhkan kerja otak neo-cortex kita dalam waktu yang bersamaan. Karena itu, kita mesti paham betul dengan hal-hal ini. Dalam keadaan apa pun kita mesti siaga untuk tetap membuat kerja otak neo-cortex kita tetap aktif. Dengan begitu, setiap hal yang ditujukan untuk niat tertentu dapat kita olah dulu sebelum menjadi sebuah tindakan.

Mari kita manfaatkan kerja otak neo-cortex ini. Jangan langsung berkeinginan untuk bertindak, tetapi olah dulu apa yang kita terima, baru lah mengambil tindakan.

Jangan sampai karena ada sesuatu yang menakut-nakuti, kita mesti harus langsung melakukan sebuah tindakan tanpa pikir panjang apa sebab dan akibat dari tindakan kita tersebut.

Semoga Allah selalu membimbing kita menuju kebenaran dan selalu memberikan petunjuk pada setiap langkah yang kita tempuh. Aamiin.

Diposkan pada MOTIVASI

​Saya, Mahasiswa yang Bagaimana?

Setiap orang punya prioritas masing-masing. Ya, ini lah salah satu kalimat yang tepat untuk menggambarkan mahasiswa masa kini. Mahasiswa masa kini bisa dikatakan sangat beragam.

Bukan hal yang aneh jika kita menemukan banyak tipikal mahasiswa. Saat ini, banyak sekali mahasiswa yang tidak hanya sekedar kuliah. Ada mahasiswa yang aktif di organisasi, baik organisasi dalam kampus maupun luar kampus. Ada juga mahasiswa yang aktif di dunia bisnis, atau biasa dikenal dengan kuliah sambil kerja. Bahkan, ada mahasiswa yang menganggap semuanya masa bodoh.

Maka berdasarkan tingkat kesuksesan dan kegagalan seorang mahasiswa semasa kuliah, kita dapat membagi mahasiswa masa kini atas beberapa tipikal.

Yang pertama, mahasiswa yang kuliahnya gagal, dan yang lainnya pun gagal. Ini adalah tipe mahasiswa yang belum, atau bahkan tidak sadar akan pentingnya kuliah. Tidak hanya masa bodoh soal kuliah, kegiatan lainnya pun sama, masa bodoh. Biasanya, mahasiswa dengan tipikal yang seperti ini hanya membiarkan hidup mengalir begitu saja, tanpa peduli, apa dan bagaimana sekarang dan seterusnya. Kita sebut saja tipe ini dengan tipe kegagalan yang pahit. Gagal karena kuliah yang berantakan, serta pahit karena minim pengalaman.

Yang kedua, mahasiwa yang kuliahnya gagal, tetapi yang lainnya berhasil. Ini adalah tipe mahasiswa yang terbuai dengan kesenangan dan kesuksesan yang didapatkan pada kegiatan di luar kuliah. Bisa jadi karena terlalu sibuk dengan organisasi, sampai-sampai kuliahnya lalai. Bisa juga karena terlalu senang dengan bisnis atau terlalu sibuk dengan kerja, hingga merasa tidak butuh lagi dengan kuliah, toh kuliah juga tidak menjanjikan pekerjaan setelah lulus nanti, mending jalani aja apa yang ada sekarang. Biasanya, mahasiswa dengan tipikal yang seperti ini adalah mahasiswa yang ingin segera sukses dan mapan. Kita sebut saja tipe ini dengan kegagalan yang manis. Gagal karena kuliah yang berantakan, tetapi manis karena kenyang pengalaman.

Yang ketiga, mahasiswa yang kuliahnya berhasil, tetapi yang lainnya gagal. Ini adalah tipe mahasiswa yang hanya fokus pada kuliahnya. Selama masa kuliah, hanya memikirkan tentang kuliahnya. Setiap hari hanya berpikir bagaimana agar segera lulus. Biasanya, mahasiswa dengan tipikal yang seperti ini sangat anti dengan yang namanya organisasi, apalagi yang berkaitan dengan dunia bisnis, yang mungkin menurutnya hanya buang-buang waktu saja, lebih baik fokus kuliah, cepat lulus, lalu mendapat pekerjaan. Lebih baik fokus kuliah dari pada terlalu sibuk ini dan itu yang hanya membuatnya semakin lama untuk lulus kuliah, dan pastinya semakin lama juga untuk mendapat pekerjaan. Kita sebut saja tipe ini dengan keberhasilan yang pahit. Berhasil karena kuliah yang lancar, tetapi pahit karena minim pengalaman.

Yang keempat, mahasiswa yang kuliahnya berhasil, dan yang lainnya pun berhasil. Ini adalah tipe mahasiwa yang sempurna. Selain kuliahnya yang lancar, dia juga aktif di organisasi, apalagi jika dia juga sukses dalam dunia bisnis. Yang terpenting lagi, apapun yang dilakukannya tidak mempengaruhi aspek lain dalam kehidupannya. Kuliah lancar, organisasi aktif, dan bisnis sukses. Biasanya, mahasiswa dengan tipikal yang seperti ini adalah mahasiswa yang kreatif dan pandai membagi waktunya. Dianggap kreatif karena punya kemampuan dalam berbagai bidang, serta mampu mengarahkan kemampuan dalam dirinya untuk diimplementasikan di tengah kesibukannya sebagai seorang mahasiswa. Lalu, dianggap pandai membagi waktu karena sudah jelas sekali, dia mampu mengatur segala hal dengan sempurna, tahu kapan waktunya harus fokus kuliah, tahu kapan waktunya aktif di organisasi, dan tahu kapan waktunya untuk berbisnis. Kita sebut saja tipe ini dengan keberhasilan yang manis. Berhasil karena kuliah yang lancar, serta manis karena kenyang pengalaman.

Lantas, manakah tipikal mahasiswa yang paling baik?? Jawabannya ada pada masing-masing mahasiswa. Karena masing-masing mahasiswa dengan tipikalnya tersendiri lah yang tahu apa yang harus dia lakukan dan apa yang dia butuhkan dalam hidupnya.

Tipikal mahasiswa pertama, mungkin merasa belum butuh apa-apa di masa depan, sehingga bersikap masa bodoh dengan segala hal. Apa yang dimilikinya saat ini, mungkin saja membuatnya belum berpikir tentang prioritas apa yang harus dia kejar selama kuliah. Karena itu, mahasiswa dengan tipikal yang seperti ini lebih berpikir dengan apa yang telah dimilikinya. Untuk apa mencari ini dan itu, jika sudah memiliki semuanya? Pikirnya.

Tipikal mahasiswa kedua, mungkin merasa sudah berhasil dengan apa yang sedang dia jalani. Karena bukan kuliah yang menjadi sebab keberhasilan seseorang, melainkan pengembangan kreatifitas seseorang. Karena itu, mahasiswa dengan tipikal yang seperti ini lebih fokus dengan pengembangan kreatifitasnya dibandingkan kuliahnya (meskipun kuliah juga bisa menjadi sarana untuk mengembangkan kreatifitas). Toh, kalau sukses dahulu sebelum lulus kuliah juga tidak ada salahnya kan? Pikirnya.

Tipikal mahasiswa ketiga, mungkin merasa masa depannya bergantung pada hasil kuliahnya. Jika kuliahnya berantakan, maka masa depannya pun akan berantakan. Tetapi jika kuliahnya lancar, maka masa depannya pun akan lancar. Karena itu, mahasiswa dengan tipikal yang seperti ini cenderung memilih untuk memfokuskan diri dengan kuliahnya. Dia tidak mempedulikan hal-hal dan kegiatan lainnya. Yang penting kuliahnya lancar, cepat lulus kuliah, dan mendapatkan pekerjaan. Pikirnya.

Tipikal mahasiswa yang keempat, mungkin merasa butuh banyak hal untuk menciptakan masa depan yang ideal menurut keinginannya. Dengan modal kuliah lancar saja, belum tentu apa yang akan terjadi kedepannya juga lancar. Buktinya, banyak sarjana-sarjana yang masih luntang-lantung cari pekerjaan sana-sini. Dengan modal aktif di organisasi saja, juga belum cukup untuk jadi modal kesuksesannya. Dengan modal sukses di bisnis pun, belum juga tentu bakal akan sukses selamanya, tidak ada yang menjamin bahwa bisnis yang sedang digelutinya bakal akan sukses selamanya, mesti ada persiapan dan rencana cadangan untuk masa depan. Karena itu, mahasiswa dengan tipikal yang seperti ini mencoba untuk ikut andil dalam segala aspek, kuliah, organisasi, bisnis, dan hal-hal lainnya jika dirasa mampu. Satu aspek saja tidak bisa menjamin masa depannya, dia harus siap dengan segala kemungkinan yang akan dia hadapi di masa yang akan datang. Banyak pengalaman, maka banyak persiapan menghadapi banyak kemungkinan. Pikirnya.

Intinya, semua tergantung pada cara berpikir seorang mahasiswa. Dari cara berpikirnya itu, muncul lah banyak ide, apa yang harus dia prioritaskan semasa kuliah. Apakah hanya akan fokus kuliah, atau aktif di organisasi, atau membuka peluang bisnis, atau memborong semuanya, atau bahkan masa bodoh dengan segala hal.

Sebagai mahasiswa, kita sendiri yang menetukan masa depan kita. Berpikir tentang masa depan, akan berpengaruh pada apa yang akan kita lakukan saat ini, ya, saat masih kuliah ini.

Jadi, mari pikirkan lagi prioritas apa yang kita pilih untuk dijalani selama masa kuliah ini, serta sesuai kah apa yang kita pilih itu untuk masa depan yang kita idamkan. Atau mungkin kita lebih memilih untuk membiarkan semuanya mengalir begitu saja bagaikan air. Semua pilihan ada di tangan kita, mahasiswa masa kini.

Semoga Allah selalu memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua dan selalu memberikan kemudahan dalam setiap hal yang kita jalani. Aamiin.

Diposkan pada PRINSIP

​Sadarlah, Siapa Kita!

Masih sedikit berhubungan dengan pembahasan sebelumnya, kali ini kita akan mencoba sedikit menjawab beberapa alasan yang sering muncul ketika kita menasehati seorang wanita, baik itu anggota keluarga maupun teman, untuk menyempurnakan cara berpakaiannya.

Mungkin diantara kita pernah mencoba untuk menasehati salah seorang anggota keluarga atau pun salah seorang teman untuk menyempurnakan cara berpakaiannya, baik itu dari yang sebelumnya belum tertutup menjadi tertutup atau pun yang sebelumnya semi tertutup menjadi tertutup sempurna. Apa pun itu, yang akan kita bahas adalah bagaimana respon dari sang wanita ketika kita berikan nasehat untuk menyempurnakan cara berpakaiannya.

Bagi yang ketika dinasehati langsung sadar dan mengerti, Alhamdulillah, tidak perlu lah kita bahas panjang lebar, Allah telah memberikan hidayah kepadanya.

Nah, yang akan kita bahas kali ini adalah wanita yang menolak ketika dinasehati. Oke, kalau memang sang wanita menolak mentah-mentah nasehat kita. Bagaimana pun, kita hanya bisa berusaha, soal hidayah Allah sampai atau pun belum kepadanya, itu hal yang berbeda. Belum lagi kalau wanita yang kita berikan nasehat itu tidak bisa kita paksa karena kita tidak punya ikatan apa-apa yang membenarkan kita untuk memaksanya, baik itu ikatan anggota keluarga atau pun ikatan teman. Kita doakan saja semoga sang wanita bisa sadar dan Allah berikan hidayah kepadanya.

Namun yang menjadi persoalan adalah ketika ada seorang wanita yang dinasehati untuk menyempurnakan cara berpakaiannya, tidak hanya menolak, tetapi memberikan alasan yang tidak tepat (tidak masuk akal).

Pernah dengar alasan “saya belum siap!” Ini adalah salah satu contoh alasan yang sering muncul dari seorang wanita ketika dinasehati untuk menyempurnakan cara berpakaiannnya. Namun sangat disayangkan, alasan ini tidak tepat.

Perlu diketahui lebih dahulu, bahwa menyempurnakan cara berpakaian (sesuai tata cara yang diperintahkan oleh syariat Islam) merupakan salah satu perintah syariat Islam yang sering juga disebut dengan taklif. Kita (manusia) sebagai seorang mukallaf wajib melaksanakan taklif yang diperuntukkan kepada kita.

Lalu, saya pernah (iseng) mencoba untuk menulusuri beberapa kitab, mencari apakah ada diantara syarat seseorang menjadi mukallaf itu harus siap untuk melaksanakan taklif. Namun saya tidak menemukan (dari beberapa kitab yang saya telusuri) syarat tersebut. Saya pun menyimpulkan, bahwa siap atau tidaknya seorang mukallaf untuk melaksanakan taklif, tidak berpengaruh atas kewajiban seorang mukallaf atas taklifnya. Mau sudah siap atau pun belum siap, sama saja, ketika ada taklif, maka seorang mukallaf wajib melaksanakannya.

Begitu juga halnya dengan perintah untuk menyempurnakan cara berpakaian, baik si wanita sudah siap atau pun belum, dia wajib untuk menyempurnakan cara berpakaiannya.

Lagi pula, apa kaitannya siap atau tidaknya seorang mukallaf dengan taklif yang diperuntukkan kepadanya? Toh kita sebagai manusia, memang diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah. Dan salah satu bentuk ibadah kita kepada Allah adalah dengan melaksanakan perintah-Nya, termasuk bagi seorang wanita untuk menyempurnakan cara berpakaiannya. Ketika kita diciptakan hanya untuk beribadah, lantas mengapa kita butuh kesiapan untuk ibadah itu. Siap atau tidak, akan tetap menjadi wajib bagi kita.

Lalu, kesiapan disini, maksud dan tujuannya bagaimana? Apakah siap untuk dilihat masyarakat umum atau bagaimana? Oh, apakah ketika seorang wanita terbiasa berpakaian yang tidak menutup aurat dalam kehidupannya di tengah masyarakat, lantas merasa belum siap kalau seandainya harus menutup aurat dengan sempurna? Mengapa mesti merasa belum siap, sementara hal yang dilakukan adalah sebuah kewajiban? Mengapa mesti merasa belum siap, sementara hal yang dilakukan adalah perintah syariat Islam? Mungkinkah sang wanita merasa belum siap karena lingkungan tetapi sangat siap melanggar perintah syariat Islam? Aneh kan.

Alasan lain yang juga sering menjadi respon seorang wanita ketika dinasehati untuk menyempurnakan cara berpakaiannya adalah “hijabin dulu hatinya (dalamnya), baru luarnya!.”

Pertama, saya ingin mempertanyakan, apa maksud dari “hijabin dulu hatinya?” Dari beberapa orang yang saya coba untuk tanyakan maksud dari kalimat ini menjawab bahwa maksudnya adalah perbaiki dulu akhlaknya.

Lagi, saya mencari dalam beberapa kitab, apakah kita dapat menjadikan sebuah perintah menjadi syarat untuk perintah lainnya? Lalu, apakah hal ini bisa diterapkan dalam masalah ini? Karena secara tidak langsung, kalimat ini bermakna, sebelum menyempurnakan cara berpakaian, maka seorang wanita harus terlebih dahulu memperbaiki akhlaknya, ketika akhlanya telah diperbaiki, barulah saatnya sang wanita menyempurnakan cara berpakaiannnya.

Saya tidak menyalahkan seorang wanita yang ingin memperbaiki akhlaknya, silahkan. Namun kenapa harus mensyaratkan satu perintah untuk perintah lain. Memperbaiki akhlak merupakan satu perintah dan menyempurnakan cara berpakaian juga merupakan satu perintah. Keduanya mesti dilaksanakan, namun bukan berarti yang satu menjadi syarat untuk yang lainnya.

Yang lebih anehnya lagi, bahkan sampai ada yang mengatakan, betapa banyak wanita yang luarnya bagus tetapi dalamnya kacau, sebaliknya, betapa banyak wanita yang luarnya kacau tetapi dalamnya bagus, yang kedua lebih baik dan tidak munafik.

Ini bukan masalah memilih satu dari dua. Keduanya adalah perintah yang wajib dilaksanakan. Ya, kalau menurut saya, jika ada wanita yang sudah menyempurnakan cara berpakaiannnya tetapi belum memperbaiki akhlaknya, maka dia mendapat pahala atas apa yang telah dia laksanakan dan mendapat dosa atas apa yang belum dia laksanakan. Sebaliknya, jika ada wanita yang sudah memperbaiki akhlaknya tetapi belum menyempurnakan cara berpakaiannya, maka dia mendapat pahala atas apa yang telah dia laksanakan dan mendapat dosa atas apa yang belum dia laksanakan. Adil kan. Setiap perintah yang dilaksanakan dapat balasan, begitu pun yang belum, juga dapat balasan.

Jadi, ini bukan persoalan munafik atau apa lah. Terkecuali jika syariat Islam itu sendiri yang mensyaratkan hal di atas, harus memperbaiki akhlak dulu baru menyempurnakan cara berpakaian. Kalau begitu, maka bagi seorang wanita yang belum memperbaiki akhlaknya, belum bisa untuk untuk menyempurnakan cara berpakaiannya? Ntar dibilang munafik. Hehe. Bercanda.

Intinya seperti itu. Kita mesti sadar posisi kita di atas dunia ini. Kita hanyalah budak, yang mesti melakukan apapun perintah dari sang tuan, Allah. Tidak perlu lah kita beralasan ini dan itu untuk menghindari perintah, toh pada hakikatnya kita diciptkan untuk melaksanakan perintah (ibadah). Mengapa mesti menghindar dari perintah, jika kita diciptakan untuk diperintah? Mari berfikir!!

Semoga Allah selalu menunjukkan kepada kita jalan menuju kebenaran dan selalu meberi kita petunjuk di setiap langkah yang kita tempuh. Aamiin.

Diposkan pada PRINSIP

​Karena Apa?

Setiap kali syariat Islam memerintahkan sesuatu, maka perintah itu akan diiringi dengan tata cara pelaksanaannya. Maka seseorang akan dianggap telah melaksanakan suatu perintah apabila telah melaksanakannya sesuai dengan tata cara pelaksanaannya. Biasanya, jika kita melihat kitab-kitab tertentu (terutama dalam kitab fiqh), maka kita akan menemukan pengertian dari beberapa perintah (dalam hal ini adalah ibadah) diungkapkan dalam bentuk tata cara pelaksanaannya. Maka tidak salah jika kita anggap tata cara pelaksanaan sebuah perintah merupakan substansi dari perintah itu sendiri. Dapat kita simpulkan, seseorang telah melaksanakan suatu perintah jika telah dilaksanakan sesuai dengan substansi perintah itu.

Mari kita contohkan pada salah satu perintah, yaitu salat. Ketika syariat Islam memerintahkan umat Islam untuk melaksanakan salat, pastinya syariat Islam akan mengiringi perintah melaksanakan salat tersebut dengan tata cara pelaksanaannya. Dan ketika salat telah dilaksanakan sesuai dengan tata cara pelaksanaan yang mengiringi perintah tersebut, baru lah seorang muslim disebut telah melaksanakan salat. Maka, tata cara pelaksanaan salat itu lah yang menjadi substansi dari salat itu sendiri.

Jadi, bagi orang yang membagi salat menjadi salat ritual dan salat sosial, lalu mencukupkan salat hanya dalam bentuk sosial, belum bisa dianggap telah melaksanakan salat sesuai dengan yang diperintahkan oleh syariat Islam, sampai dia melaksanakan salat sesuai dengan substansinya, yang dalam hal ini adalah salat ritual.

Karena itu, kita tidak bisa asal-asalan dalam melaksanakan sebuah perintah, melainkan harus dilaksanakan sesuai tata cara pelaksanaannya. Sampai seseorang melaksanakan sebuah perintah dengan tata cara pelaksanaan yang sesuai, baru lah dia bisa dikatakan telah melaksanakan perintah itu.

Sebenarnya bukan hal-hal di atas yang menjadi pokok pembahasan kali ini, namun agar lebih mudah dipahami, ada baiknya jika diberikan sedikit kalimat pembuka sederhana yang mengarah pada pokok pembahasan kali ini.

Dalam satu kesempatan, saya pernah berdiskusi dengan seseorang (nama disamarkan/kode etik jurnalistik) tentang permasalahan cara berpakaian (batasan menutup aurat) bagi seorang wanita. Mungkin permasalah ini terlihat sederhana, namun ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan.

Sudah menjadi suatu hal yang diketahui bersama jika syariat Islam telah mengatur cara berpakaian seorang wanita (batasan aurat dan lain-lain) dalam bentuk perintah. Perintah itu pun telah dirincikan dengan sempurna, lengkap dengan batasan-batasannya. Artinya, syariat Islam tidak hanya memerintahkan seorang wanita untuk menutup aurat namun juga menunjukkan tata cara pelaksanaan perintah tersebut.

Namun bukan menjadi rahasia lagi, jika yang terjadi di lapangan justru berbeda. Cara berpakaian wanita beragam. Mulai dari yang jauh dari kata menutup aurat hingga yang benar-benar menutup aurat.

Bagi seorang wanita yang terang-terangan tidak menutup aurat, maka sudah jelas, dia masih belum melaksanakan perintah syariat Islam tersebut, atasnya balasan sesuai dengan apa yang dilakukannya. Begitu pun bagi seorang wanita yang telah menutup aurat dengan sempurna, sudah jelas pula, dia telah melaksanakan perintah syariat Islam (Insya Allah), atasnya balasan sesuai dengan apa yang dilakukannya. Lantas, yang menjadi permasalahannya adalah seorang wanita yang berada diantara dua posisi di atas. Mungkin sebagai gambaran, ada seorang wanita yang berpakaian yang mungkin tertutup bahkan berkerudung, namun dengan model yang ketat (seukuran badan).

Inilah yang menjadi materi diskusi saya dengan seseorang di atas. Pada awalnya saya hanya menyampaikan bagaimana syariat Islam mengatur tata cara berpakaian bagi seorang wanita.

Namun apa yang saya sampaikan ditanggapi lain. Dia menganggap perintah “menutup” berarti hanya sebatas menutup, meskipun di dalam syariat Islam istilah “menutup” diartikan lebih dari sekedar menutup, serta memiliki syarat-syarat kapan sesuatu dianggap telah tertutup.

Seseorang yang kita sebut saja si “X” ini mengatakan bahwa cara berpakaian wanita yang menutup aurat meskipun dengan baju atau celana ketat sudah bisa dianggap sesuai dengan perintah menutup aurat yang diinginkan oleh syariat Islam.

Lantas saya pun menanggapi dengan mengungkapkan bagaimana perintah menutup aurat yang sesuai dengan syariat Islam.

Pada awalnya, si X mulai memperlihatkan bentuk persetujuan. Namun setelah beberapa saat, si X mulai kembali menanggapi, ya, meskipun begitu, tetapi kan cara berpakaian seperti ini sudah bisa dianggap sopan di tengah masyarakat. 

Saya pun mengatakan, lantas wanita itu menutup aurat karena apa? Karena perintah syariat Islam atau karena norma kesopanan pada suatu kampung?

Bukan bermaksud untuk merendahkan suatu norma yang telah berlaku pada suatu kampung, namun norma yang berlaku di suatu tempat tidak bisa kita jadikan dasar atas sudah atau belumnya kita menjalankan aturan syariat Islam.

Saya menambahkan, jika memang norma kesopanan yang menjadi sandaran, bagaimana dengan negeri seberang yang bahkan membuka aurat di tengah keramaian dianggap hal yang sopan-sopan saja? Apa itu berarti perintah syariat Islam untuk menutup aurat bagi seorang wanita tidak berlaku di negeri seberang itu, hanya karena disana membuka aurat di tengah keramaian sudah di anggap sopan? Tentu tidak kan.

Oleh karena itu, segala sesuatunya punya aturan. Termasuk perintah syariat Islam yang punya tata caranya sendiri. Sampai tata cara pelaksanaan perintah itu benar-benar dilaksanakan sesuai dengan aturan yang benar, baru lah seseorang dianggap telah melaksanakan suatu perintah.

Ini tidak hanya berlaku dalam masalah ini saja. Semua hal yang berkaitan dengan perintah syariat Islam, mesti dilaksanakan dengan tata cara yang sesuai. Tidak peduli dengan persepsi-persepsi dari sebagian orang, asalkan belum sesuai dengan tata cara pelaksanaan yang benar, maka belum dianggap telah melaksanakan perintah.

Perlu kita renungi, apa pun yang kita lakukan di atas dunia ini, karena apa? Jika karena Allah, maka lakukan lah sesuai dengan petunjuk dan aturan Allah. Bukan dengan petunjuk dan aturan yang sudah dianggap cukup oleh sebagian persepsi dari beberapa orang. Sekali lagi bukan bermaksud merendahkan sebuah norma yang telah berlaku, namun kita mesti bisa teliti dalam melaksanakan perintah syariat Islam.

Apalagi jika yang berlaku sebaliknya, petunjuk dan aturan Allah yang bertentangan dengan norma kesopanan yang berlaku pada sebuah kampung.

Sebagai contohnya, mungkin ada di suatu daerah, seorang wanita yang bercadar dianggap aneh dan asing, bahkan lebih dari itu. Ya, itu wajar. Karena biasanya sebuah hal buruk jika terlalu sering muncul, maka akan dianggap biasa saja. Begitu pun sebaliknya, sebuah hal baik jika tidak pernah muncul, maka akan dianggap asing dan aneh ketika muncul. Mungkin karena di daerah kita bercadar masih sangat jarang, jadi jika ada seorang wanita yang bercadar akan dianggap asing dan aneh, bahkan lebih dari itu.

Karena itu, kita tidak cukup hanya menilai sebatas sudah oke di tengah masyarakat. Namun kita juga perlu melihat bagaimana aturan yang sebenarnya dalam syariat Islam. Karena yang memberi perintah adalah syariat Islam, maka sampai dilaksanakan dengan tata cara yang datang mengiringi perintah itu, barulah dianggap telah melaksanakan perintah dari syariat Islam.

Semoga Allah selalu membimbing kita menuju kebaikan dan selalu memeberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Aamiin.